Dua hari yang lalu di Bali adalah hari yang biasa saja, selain karena aku merasa sepertinya Salatiga sedang memanggil anaknya pulang. Dan tiba tiba sore datang, dan tiba tiba seorang kakak menelpon, dan tiba tiba saya sudah berada di jalan, dan untuk kesekian kalinya menemukan diri saya membeli tiket pesawat online, kali ini tujuannya JAYAPURA, PAPUA. Semuanya cepat, semuanya spontan. Semuanya, tanpa ragu sedikitpun. Dan di hari yang sama, hey, saya sudah ada di Jakarta, siap dengan pengalaman apapun yang ada di depan.
Ada sensasi khusus bagi para traveller tentang istilah spontanitas. Spontanitas bagi para traveller itu.....berbeda. Campuran dari gembira yang kekanak-kanakan, ditahan sedikit oleh keharusan merumuskan dan membagi plan dan waktu, rasa ragu, dan sistem auto-pilot. Semua traveller, seterbiasa apapun dengan hidup nomad, pasti masih merasakan sensasi yang sama. Dan serius, saya tidak mau kehilangan rasa itu sampai kapanpun.
So I was proudly born in Papua. Dibesarkan dan menikmati masa kecil selama 10 tahun di kota Jayapura. Hidup berlanjut dengan caranya sendiri, dan akhirnya saya menetapkan pilihan untuk hidup di Bali (sudah tidak lagi, I am a proud nomad :D). Tapi kenangan tentang Jayapura tidak akan pernah hilang. Kota itu cantik, beragam, tempat dimana dulu tidak ada perbedaan agama dan rasisme.
Saya masuk SD di sebuah SDN Inpres, yang sampai sekarang masih jadi bahan ejekan teman-teman di Jawa. Sudah 19 tahun saya meninggalkan kota itu. Saya ingat waktu kami sekeluarga baru membiasakan hidup baru di kota Solo, Jawa Tengah, saya sering menangis dan meminta untuk "pulang saja ke Jayapura". Anak kecil memang paling sensitif masalah comfort zone. Dan sekarang saya terharu sendiri dengan tulisan ini. Si kecil itu akan pulang, akhirnya. Setelah waktu yang lama, setelah hidup yang membawaku kemana mana akhirnya saya akan pulang. Besok lusa, matahari Papua akan kembali lagi menghangatkan dan mengeringkan air mata.
No comments:
Post a Comment