I live in one black backpack, that's the only fact. I live no lie, but secrets are to hide. Suatu hari yang entah bagaimana, saya memutuskan untuk hidup nomaden. Sebuah spontanitas yang ternyata membutuhkan perjuangan. Sampai sekarang. Questions or ideas in the comment tab or e-mail me: the.baobeii@gmail.com
Wednesday, February 20, 2013
Monday, February 18, 2013
"Triple 6" way back home
So I just came back from my one-week Papua trip. It was to Jayapura, where I grew up for 10 years. That place has changed a lot for these 19 years long. I will have to update the pictures later on. Now on, I am still amazed about the way back.
It was a "triple-6" trip. I called it so because I took 6 hours on a plane from Jayapura to Jakarta (east to west Indonesia), and then took a meal stop at my brother's in laws house for an hour before we continue the Java trip with car, 6 hours from Jakarta to Cirebon. We discussed it on the way to Cirebon, which way the best, whether to take one night stay in Cirebon or continue the trip to Salatiga that night. Well, the decision was good enough for me, we will rest the muscles at Salatiga. So there was 6 hours back to Salatiga by bus. I am amazed that I don't feel any pain, but a bit tired. That was a great way back home!
It was a "triple-6" trip. I called it so because I took 6 hours on a plane from Jayapura to Jakarta (east to west Indonesia), and then took a meal stop at my brother's in laws house for an hour before we continue the Java trip with car, 6 hours from Jakarta to Cirebon. We discussed it on the way to Cirebon, which way the best, whether to take one night stay in Cirebon or continue the trip to Salatiga that night. Well, the decision was good enough for me, we will rest the muscles at Salatiga. So there was 6 hours back to Salatiga by bus. I am amazed that I don't feel any pain, but a bit tired. That was a great way back home!
Saturday, February 9, 2013
Jayapura, Here I come!
Dua hari yang lalu di Bali adalah hari yang biasa saja, selain karena aku merasa sepertinya Salatiga sedang memanggil anaknya pulang. Dan tiba tiba sore datang, dan tiba tiba seorang kakak menelpon, dan tiba tiba saya sudah berada di jalan, dan untuk kesekian kalinya menemukan diri saya membeli tiket pesawat online, kali ini tujuannya JAYAPURA, PAPUA. Semuanya cepat, semuanya spontan. Semuanya, tanpa ragu sedikitpun. Dan di hari yang sama, hey, saya sudah ada di Jakarta, siap dengan pengalaman apapun yang ada di depan.
Ada sensasi khusus bagi para traveller tentang istilah spontanitas. Spontanitas bagi para traveller itu.....berbeda. Campuran dari gembira yang kekanak-kanakan, ditahan sedikit oleh keharusan merumuskan dan membagi plan dan waktu, rasa ragu, dan sistem auto-pilot. Semua traveller, seterbiasa apapun dengan hidup nomad, pasti masih merasakan sensasi yang sama. Dan serius, saya tidak mau kehilangan rasa itu sampai kapanpun.
So I was proudly born in Papua. Dibesarkan dan menikmati masa kecil selama 10 tahun di kota Jayapura. Hidup berlanjut dengan caranya sendiri, dan akhirnya saya menetapkan pilihan untuk hidup di Bali (sudah tidak lagi, I am a proud nomad :D). Tapi kenangan tentang Jayapura tidak akan pernah hilang. Kota itu cantik, beragam, tempat dimana dulu tidak ada perbedaan agama dan rasisme.
Saya masuk SD di sebuah SDN Inpres, yang sampai sekarang masih jadi bahan ejekan teman-teman di Jawa. Sudah 19 tahun saya meninggalkan kota itu. Saya ingat waktu kami sekeluarga baru membiasakan hidup baru di kota Solo, Jawa Tengah, saya sering menangis dan meminta untuk "pulang saja ke Jayapura". Anak kecil memang paling sensitif masalah comfort zone. Dan sekarang saya terharu sendiri dengan tulisan ini. Si kecil itu akan pulang, akhirnya. Setelah waktu yang lama, setelah hidup yang membawaku kemana mana akhirnya saya akan pulang. Besok lusa, matahari Papua akan kembali lagi menghangatkan dan mengeringkan air mata.
Ada sensasi khusus bagi para traveller tentang istilah spontanitas. Spontanitas bagi para traveller itu.....berbeda. Campuran dari gembira yang kekanak-kanakan, ditahan sedikit oleh keharusan merumuskan dan membagi plan dan waktu, rasa ragu, dan sistem auto-pilot. Semua traveller, seterbiasa apapun dengan hidup nomad, pasti masih merasakan sensasi yang sama. Dan serius, saya tidak mau kehilangan rasa itu sampai kapanpun.
So I was proudly born in Papua. Dibesarkan dan menikmati masa kecil selama 10 tahun di kota Jayapura. Hidup berlanjut dengan caranya sendiri, dan akhirnya saya menetapkan pilihan untuk hidup di Bali (sudah tidak lagi, I am a proud nomad :D). Tapi kenangan tentang Jayapura tidak akan pernah hilang. Kota itu cantik, beragam, tempat dimana dulu tidak ada perbedaan agama dan rasisme.
Saya masuk SD di sebuah SDN Inpres, yang sampai sekarang masih jadi bahan ejekan teman-teman di Jawa. Sudah 19 tahun saya meninggalkan kota itu. Saya ingat waktu kami sekeluarga baru membiasakan hidup baru di kota Solo, Jawa Tengah, saya sering menangis dan meminta untuk "pulang saja ke Jayapura". Anak kecil memang paling sensitif masalah comfort zone. Dan sekarang saya terharu sendiri dengan tulisan ini. Si kecil itu akan pulang, akhirnya. Setelah waktu yang lama, setelah hidup yang membawaku kemana mana akhirnya saya akan pulang. Besok lusa, matahari Papua akan kembali lagi menghangatkan dan mengeringkan air mata.
Thursday, February 7, 2013
I am not rich
Judul postingan ini untuk menegaskan situasi keuangan saya. I worked, I work, and always will find a way to make money. Currently my favorite thing to do is being a Virtual Assitant. I have Economics background, I worked as secretary, personal assistant, finance and manager. I also work my life out. Hahaha. But I never a rich in financial term. Neither did my parents. Believe me.
Menjadi Virtual Assistant adalah jalan terbaik saat ini supaya keputusan saya untuk hidup nomaden bisa terus berlanjut sepanjang saya suka. Tentu saja saya punya banyak impian dan ide. Mengubah pola dan gaya hidup akan SELALU membuat kita kreatif. Saya jadi terus berpikir bagaimana melanjutkan perjalanan ini, dengan selamat tentunya. Dan ketika setahun setelah saya memutuskan untuk hidup tidak menetap, saya memberanikan diri untuk membuat blog ini. Semoga dari sini juga bisa jadi inspirasi baru. Tolong bantu saya yaaa.. :) *ngomong a la peserta quiz jepang*
Menjadi Virtual Assistant adalah jalan terbaik saat ini supaya keputusan saya untuk hidup nomaden bisa terus berlanjut sepanjang saya suka. Tentu saja saya punya banyak impian dan ide. Mengubah pola dan gaya hidup akan SELALU membuat kita kreatif. Saya jadi terus berpikir bagaimana melanjutkan perjalanan ini, dengan selamat tentunya. Dan ketika setahun setelah saya memutuskan untuk hidup tidak menetap, saya memberanikan diri untuk membuat blog ini. Semoga dari sini juga bisa jadi inspirasi baru. Tolong bantu saya yaaa.. :) *ngomong a la peserta quiz jepang*
Keputusan Pribadi
Isn't this life a play ground? Some of us play to compete, some play to having fun. Well, dan saya membuat taman bermain saya sendiri. It's been a year long from that one day I woke up and and say to myself, "I need a change". The fact is, I will always need a change. Yes, termasuk jika nanti saya memutuskan untuk kembali ke "rumah". So let's the game started.
Why I decided to be like this? Having no home, walk with only one backpack, leave or stay whenever I like, aren't we all need a stable life? A house to go home to in the end of the day, bla bla bla. YES, it's true. But I am tired of weighing all that needs on my shoulder, termasuk semua barang yang pernah saya punyai. Isi kamar. Jadi saya hubungi semua kawan saya dan membuka garage sale. Or giving it for free. Just take it away from me, adalah kata kunci saya. Pros and cons arose. Sebagian dari kawan kawan saya yang mengerti, hanya melongo. Sebagian lagi, masih terus mempertanyakan. Tidak ada yang benar benar mendukung. Sampai sekarang. Tapi bagi yang mengerti, itu sudah cukup. Toh resiko ini ada di tangan saya. Dan resiko ini menyenangkan, setidaknya bagi saya. Air matanya manis :).
Why I decided to be like this? Having no home, walk with only one backpack, leave or stay whenever I like, aren't we all need a stable life? A house to go home to in the end of the day, bla bla bla. YES, it's true. But I am tired of weighing all that needs on my shoulder, termasuk semua barang yang pernah saya punyai. Isi kamar. Jadi saya hubungi semua kawan saya dan membuka garage sale. Or giving it for free. Just take it away from me, adalah kata kunci saya. Pros and cons arose. Sebagian dari kawan kawan saya yang mengerti, hanya melongo. Sebagian lagi, masih terus mempertanyakan. Tidak ada yang benar benar mendukung. Sampai sekarang. Tapi bagi yang mengerti, itu sudah cukup. Toh resiko ini ada di tangan saya. Dan resiko ini menyenangkan, setidaknya bagi saya. Air matanya manis :).
Subscribe to:
Posts (Atom)